Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Sunday, March 1, 2009

TANDA SALIB

Banggakah Anda menjadi orang Katolik? Kalau iya, mengapa Anda bangga menjadi orang Katolik? Apa sih istimewanya orang Katolik itu? Terlepas dari apa pun jawaban Anda, ada satu keistimewaan yang kita punyai sebagai orang Katolik. Yaitu TANDA SALIB. Mengapa istimewa? Tanda salib merupakan suatu rangkaian doa yang walaupun singkat tetapi sangat padat dan dalam maknanya.
Berikut ini penjelasan dari masing-masing bagian tanda salib;
"Demi Nama Bapa" (di dahi) Hal ini menandakan bahwa Allah Bapa merencanakan, menciptakan dan menyelenggarakan segala sesuatunya. Otak adalah pusat segalanya. Otak tempat kita berpikir, tempat kita merencanakan. Bapa merencanakan Putra-Nya untuk datang ke dunia sebagai penyelamat yang menyelamatkan umat manusia.
Dan Bapalah yang menyelenggarakan segala karya dan hidup Yesus. Oleh karena itu kita melanjutkan dengan:
"Dan Putra" Di sini sering terjadi kesalahan karena banyak yang melakukan di dada (horizontal dengan Roh Kudus). Yang benar adalah di pusar, karena tali pusar adalah tali kehidupan, tali yang menyambung antara ibu dan anak di sinilah janin mendapat makan dan mendapat curahan kehidupan. Dan Yesus lahir sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia dan karya-Nya itu dimulai dari sejak kita masih berupa janin. Kita semua tahu bahwa Yesus kemudian harus meninggalkan dunia untuk kembali kepada Bapa-Nya.

"Dan Roh Kudus" (horizontal di dada) Bapa sangat mencintai kita dan terus berusaha menyelenggarakan hidup kita sebaik-baiknya, maka Bapa mengirim Roh Kudus-Nya agar tetap mendampingi, melindungi, dan menjaga kita, sehingga kita akan senantiasa mengundang dan menghadirkan Allah Tri Tunggal kita dalam setiap kehidupan, untuk senantiasa menjagai kita sampai kedatangan Allah Putra kembali.
Dengan tanda salib tubuh kita telah dimeterai dan disucikan oleh Allah.
Dalam segala kegiatan kita: sewaktu kita tidur, kita belajar, kita bekerja, kita melakukan pelayanan, kita makan, kita susah, kita senang, kita tertawa, kita menangis.
Jika kita membuat tanda salib itu berarti kita mengundang Allah Tri Tunggal untuk menjaga, melindungi kita sehingga kita tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa.
Tanda salib juga merupakan tanda persatuan kita dengan sesama umat Katolik, misalnya jika kita makan di rumah makan, kemudian melihat ada orang membuat tanda salib, kita pasti bilang : Oh, orang itu orang Katolik, dia saudara saya yang seiman.
God bless you.

Article

SIKAP DASAR MERAYAKAN LITURGI (lanjutan)
Oleh: Pastor E. Martasudjita, Pr.

Lalu ada persiapan rohani atau batin iman kita sendiri. Inilah persiapan yang berupa doa, meditasi, atau renungan atas sabda Tuhan yang nanti akan dibacakan. Banyak orang pergi ke misa kudus tanpa persiapan apa-apa. Mereka tidak tahu tentang bacaan yang akan diwartakan. Yang paling baik, sebelum berangkat ke misa kudus di gereja, kita sudah membaca bahan bacaan misa kudus sesuai dengan kalendarium liturgi. Syukurlah bila membacanya sudah pada malam hari sebelumnya. Kita membaca bacaan Kitab Suci itu dan kita renungkan sebisa-bisanya. Janganlah datang terlambat. Kita datang seawal mungkin untuk berdoa dan mempersiapkan hati, menenangkan hati dan pikiran, merenungkan isi bacaan yang sudah kita baca di rumah atau tersedia dalam teks misa, dan jangan lupa merumuskan dan menyampaikan ujud doa kita. Apa yang ingin saya syukuri dalam Ekaristi ini dan apa yang ingin saya mohon secara khusus dalam Ekaristi ini? Inilah macam-macam persiapan jarak dekat.
Hanya dengan persiapan diri yang memadai, suatu perayaan liturgi menjadi mengena dan bermakna bagi kita. Ternyata liturgi yang hidup dan baik tidak hanya ditentukan dari faktor petugas, tata laksana, dan peralatannya yang baik, tetapi juga terutama amat dipengaruhi oleh faktor dari dalam, yakni diri kita dan persiapan diri kita sendiri.
Perayaan liturgi, terutama misa kudus, yang biasa kita ikuti setiap Minggu atau harinya, sungguh mampu menopang hidup dan gerakan napas kita sepekan atau sehari itu. Misa kudus sungguh memberikan daya kekuatan rahmat yang kita butuhkan. Perayaan Ekaristi memberi jiwa, semangat, gairah dan daya kekuatan kepada kita sehingga seluruh acara kita pada sepekan atau hari itu diberi jiwa, semangat dan arahnya. Meskipun perayaan liturgi kita atau doa kita hanya berlangsung selama 30 menit atau beberapa menit, namun perayaan liturgi atau doa kita itu mempengaruhi seluruh dinamika acara dan kegiatan hidup kita pada sepekan atau hari itu.
Banyak orang pergi untuk ber-ekaristi di gereja demi alasan sekadar kewajiban . Ini hari Minggu, harinya Tuhan, maka marilah kita pergi ke gereja. Alasannya, ya, karena hari Minggu itu. Atau, yang lain lagi, yakni orang mengikuti misa untuk melihat penampilan kor terkenal atau pemusik terkenal yang sedang diundang mengisi nyanyian dalam misa kudus. Tetapi banyak umat yang pergi untuk misa kudus atau berdoa karena meamng sedang mempunyai ujud atau permohonan pribadi. Semua alasan itu tentu boleh-boleh saja, tidak salah. Hanya saja, semua alasan itu mestinya janganlah menjadi alasan utama atau yang paling dasar. Jiwa penghayatan liturgi yang paling murni dan mendasar adalah kerinduan hati untuk berjumpa dengan Tuhan. Rindu itu digerakkan oleh cinta.
Ingin berjumpa dengan Tuhan memang mesti menjadi alasan nomor satu bila kita berdoa atau berliturgi. Hal ini bukan hanya menyangkut isi dasar liturgi kita, yang intinya perayaan pertemuan dengan Tuhan. “Saya pergi ke misa kudus ini ‘kan untuk bertemu dengan Tuhan. Maka, siapa atau bagaimana imamnya, itu tidaklah terlalu penting.”Itu kata-kata orang yang menghayati motivasi dasar berliturgi pada soal kerinduan hati kepada Tuhan. (Habis)

Sunday, February 1, 2009

RENUNGAN

SIKAP DASAR MERAYAKAN LITURGI
oleh Pastor E. Martasudjita Pr.

Barangkali kita suka mengeluh, mengapa liturgi yang tadi dirayakan tidak menarik dan tidak mengena. Kita juga sering mengkritik bahwa homili imam atau prodiakon tidak baik, simpang siur dan tidak karuan. Atau, kita sendiri mengeluh dalam hati, mengapa kita tidak bisa menikmati perayaan Ekaristi di paroki ataupun di komunitas kita. Mengapa doa-doa kita terasa kering kerontang dan tanpa greget (semangat) ? Memang banyak faktor yang mempengaruhi penghayatan liturgi. Akan tetapi, salah satu faktor yang penting ialah persiapan diri kita. Kalau orang tidak bisa menikmati perayaah liturgi, janganlah pertama-tama menyalahkan orang lain, petugasnya, imamnya, lagu-lagunya, dan seterusnya. Harus diakui bahwa faktor petugas dan hal-hal semacam itu tentu mempengaruhi penghayatan liturgi kita. Namun, faktor persiapan diri kita sendiri amat sangat penting untuk bisa menghayati liturgi dengan sukacita dan hidup.
Bagaimana saya mempersiapkan diri saya sendiri untuk merayakan liturgi yang akan dilaksanaka itu?
Inilah pertanyaan awal bila orang mau merenungkan dan memikirkan kehidiupan penghayatan liturgi dan doanya. Sebaik apa pun perayaan liturgi itu diselenggarakan, seindah apa pun dekorasi liturginya, sebagus apa pun koor dan petugas lainnya melaksanaakn tugasnya, tetapi kalau kita sebagai umat hadir dengan hati yang risau dan gelisah, rasanya perayaan liturgi itu kurang mengena pada diri kita. Mungkin perayaan liturginya bagus, tetapi kita mengantuk luar biasa karena semalaman nonton televisi, lalu perayaan liturgi tersebut juga tidak bermakna banyak untuk kita. Inilah perlunya persiapan. Ibarat sawah, sebagus apa pun benih yang ditaburkan, kalau sawahnya belum disiapkan sebelumnya, misalnya belum disuburkan dan diairi secukupnya, maka benih itu tidak akan tumbuh baik. Sehebat apa pun homili sang pastor, tetapi hati umatnya sedang tidak tenang karena ingin segera pulang untuk nonton sinetron atau tinju, maka homili itu akan berlalu begitu saya.
Ada macam-macam persiapan. Sebagai persiapan fisik, misalnya, kita mengusahakan agar lama tidur kita cukup sehingga nanti di gereja kita tidak mengantuk. Termasuk persiapan pakaian mana yg mau dipakai.
Selain fisik, kita juga perlu mempersiapkan psikis dan hati kita. Baiklah kala kita pergi ke gereja atau mau berdoa, kita itu berada dalam suasana hati yang sabar, tenang dan tidak tergesa-gesa. Kalau hati ini sedang mangkel atau jengkel kepada seseorang, lalu kejengkelan itu terus kita bawa dalam seluruh perayaan Ekaristi, bisa dipastikan bahwa Misa Kudus kita itu tidak bermakna. Pergi ke gereja dengan hati yang damai, sabar (bahasa Jawa: sareh), dan penuh kerinduan tentu akan membuat perayaan liturgi lebih mudah menyapa kita.

(bersambung)
E M P A T I
oleh : Andy F. Noya ( Sesion 1 )


Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas karena restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak. Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari yang selama ini luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada, jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada, jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa. Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikkan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak. Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal. Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran. Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ. Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.

(bersambung)

Thursday, January 1, 2009

ADVEN : UNDANGAN PERTOBATAN

oleh: P. Gregorius Kaha, SVD

“Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat”

Adven: Seberapa pentingnya bagi kita ?
Adven yang berarti “kedatangan”, adalah moment sangat istimewa bagi kita dalam mempersiapkan diri merayakan Natal. Fokus utama sebenarnya bukan pada “penantian” tetapi justru pada “kedatangan Tuhan Yesus”. Dengan kata lain, Adven bukan moment final tetapi kesempatan berahmat untuk menyiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus. Kedatangan Kristus dalam konteks persiapan Adven adalah kedatangan-Nya dalam hati manusia. Jadi kita tidak hanya mengenang kelahiran Yesus ribuan tahun yang lalu, tetapi berjaga-jaga atau bersiap sedia untuk kedatangan-Nya yang kedua, juga kedatangan-Nya dalam hati kita. Kita patut berbangga karena Gereja dengan sangat tegas dan jelas mengajak dan menuntun kita memasuki masa persiapan sebelum merayakan Natal. Selama empat minggu kita menyiapkan diri dengan harapan agar makna Natal bisa menyentuh kehidupan kita. Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa tanpa Adven, Natal kehilangan makna.

Makna Adven Bagi Kita
Adven dan Natal tidak bisa dilihat secara terpisah. Yang menyiapkan diri secara baik dalam Adven akan merasakan dan merayakan sukacita Natal. Maka makna dari masa Adven bisa kita simpulkan secara sederhana:

Pertama, Adven merupakan Undangan Pertobatan.
Pertobatan merupakan sikap yang tepat untuk menyambut kedatangan Juruselamat. Kedatangan Tuhan Yesus didahului dengan seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat; dan kini ketika kita menyongsong Natal, Gereja pun mengajak kita untuk bertobat. Pertobatan bukan soal lahiriah belaka (seremonial semata) tetapi mesti menyentuh kedalaman hati untuk sebuah pembaharuan hidup. Oleh karena itu, sebenarnya kita bisa mengerti mengapa kita diajak untuk tidak merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember; yakni, supaya ada saat untuk merenungkan kehidupan ini dan menatanya secara baik dan benar sebelum menyambut kedatangan Kristus.

Kedua, Adven melukiskan Pengharapan dan Sukacita.
Dalam tradisi, simbol masa persiapan ini adalah Lingkaran Adven. Selama empat minggu kita menanti penuh harapan. Buah dari tobat bukan kesedihan karena meninggalkan dosa / manusia lama, melainkan sukacita karena hidup baru dalam Tuhan. Minggu Adven tidak hanya mengajak kita memperbaharui lagi pengharapan kita akan janji penyelamatan, tetapi juga bersukacita karena janji itu terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Pada Minggu Adven ketiga (Minggu Gaudete), sukacita kita meluap-luap tak tertahankan lagi karena Sang Penyelamat sudah dekat. Oleh karena itu, sebenarnya kita bisa memahami, mengapa ada banyak simbol dan persiapan lahiriah (Lingkaran Adven, Ibadat Adven, pengakuan dosa dll) selama Masa Adven; yakni agar menumbuhkan dan mendukung persiapan batin kita.

Ketiga, Adven menggambarkan Penantian Panjang.
Nubuat tentang kelahiran Yesus disampaikan kepada bangsa-bangsa melalui para nabi. Nubuat itu menimbulkan penantian dalam sejarah hidup manusia. Yesus memang sudah dilahirkan dan datang ke dunia, Ia pun berjanji akan datang untuk kedua kalinya. Adven mengajak kita menghayati penantian Gereja akan kedatangan kembali Tuhan Yesus ini.

Pesan: Jaga hatimu & teruslah bersolider
Melalui minggu-minggu Adven ini kita sebenarnya juga diajak untuk menantikan kedatangan Tuhan Yesus dalam hidup kita sehari-hari. Maka selama Adven, selain membangun sikap tobat, janganlah kita lupa berdoa mohon kehadiran-Nya dalam hidup kita agar kita pun berani membaharui kehidupan kita dan siap bersolider dengan sesama. Semoga Tuhan berkenan lahir dalam hati kita yang remuk-redam ini. Selamat beradven.

CATATAN CINTA DARI LOURDES ( 3 - habis )


by Hertin

Pada tanggal 25 Pebruari 1858, pada penampakan-Nya ke-9 di Gua Massabiele, Bunda Maria berkata kepada Bernadette: “Pergilah minum dari mata air itu dan bersihkan dirimu”. Seperti kita ketahui sebelumnya, atas petunjuk Bunda Maria, Bernadette pergi ke tanah bagian belakang dalam gua, menggali tanah di kiri gua itu dengan tangannya sendiri sehingga air mengalir keluar tak henti-hentinya hingga kini. Air dari sumber Gua Massabiele ini diambil para peziarah untuk minum, membasuh muka serta membersihkan diri. Semua mengingatkan kita akan pembaptisan dan hidup baru dalam Roh Kudus.

Kesempatan untuk mandi air suci Lourdes pada siang hari itu seusai jalan salib juga tidak disia-siakan oleh rombongan peziarah. Kami rela antri cukup lama menunggu giliran untuk dapat ‘diceburkan’ ke bak mandi dengan air yang dingin sekali. Sambil duduk, bergeser dari bangku satu ke bangku lain seperti layaknya menunggu giliran pengakuan dosa, para rombongan peziarah dari berbagai bangsa berdoa rosario dengan bahasa mereka masing-masing. Kita rombongan Indonesia juga mendapat kesempatan menyahut Salam Maria dalam bahasa Indonesia.

Luar biasa perasaan saya melambung atas kebesaran Tuhan. Lagu-lagu selingan selama doa rosario juga memberi semangat dan kesabaran pada kami. Senyum tersungging di bibir menghiasi wajah ceria para peziarah yang telah usai ‘dimandikan’ di kolam air oleh 2 petugas.
Persiapan iman yang kuat memang diperlukan, agar dapat mengalahkan bisikan setan yang bekerja di tempat suci tersebut. Perasaan was-was meninggalkan begitu saja tas, uang dan barang berharga di ruang ganti yang juga dipakai oleh banyak orang yang tidak dikenal. “Amankah?” Perasaan kuatir akan air di bak mandi yang sudah dipakai untuk ‘menceburkan’ banyak orang apalagi yang sakit. “Hygieneskah?” Ada penyesalan di hati saya, kenapa bisikan setan itu ada di sana. Apakah mungkin karena pengaruh pengalaman duniawi di gereja-gereja kota besar, sering ada peringatan untuk tidak meninggalkan tas di bangku duduk? Namun apa pun penyebabnya, yang penting bagi peziarah adalah membuang semua pikiran negatif atas pengalaman duniawi, kemudian menanamkan iman kepercayaan akan belas kasih Allah serta pertolongan Bunda Maria senantiasa.

Tak terasa sore menjelang di mana para peziarah telah bersiap-siap untuk ikut perarakan lilin. Dengan membawa lilin panjang, beberapa orang dari rombongan kami berangkat menuju podium lebih awal untuk bergabung dengan para peziarah lain yang akan menyanyikan lagu Ave Maria dan mengucapkan Salam Maria dengan bahasa negara masing-masing.

Di pelataran Basilika Bawah tersebut, rombongan Indonesia ditempatkan persis di bagian tengah diapit oleh romboangan dari India dan Inggris. Sementara itu cahaya ribuan lilin mulai menerangi lapangan besar di depan Basilika. Prosesi lilin mulai bergerak perlahan diiringi lantunan lagu Ave Maria dalam berbagai bahasa silih berganti. Perasaan saya ikut ‘terangkat’ setiap lilin dilambaikan dan diangkat tinggi diiringi ‘Ave, Ave, Ave Maria’.

Setelah giliran rombongan kita selesai menyanyikan sebait lagu ‘Di Lourdes di gua sunyi terpencil……’ serta doa Salam Maria, saya semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan dan Bunda pada umatnya sehingga saya mendapat kesempatan ikut menyanyi di podium bersama umat negara-negara lain. Tak bisa saya ungkapkan kebahagiaan hati dan betapa indahnya malam itu. Perarakan diakhiri dengan doa Credo, Salve Regina serta berkat dari uskup dan para pastor yang hadir.



( tamat )

Monday, December 1, 2008

CATATAN CINTA DARI LOURDES (2)

Kabut tipis serta mendung menyelimuti kota Lourdes pagi ini. Udara dingin mengiringi langkah saya ke kapel kecil yang letaknya tak jauh dari Gua Maria. Misa pagi dalam bahasa Indonesia dipimpin oleh romo pendamping rombongan, Romo Patrik Josaphat. Segala puji syukur kami persembahkan atas kurnia dan cinta kasih Bapa sehingga semua anggota rombongan berada dalam keadaan sehat walafiat walaupun telah menempuh perjalanan panjang dan jauh beberapa hari. Suasana kontras terlihat di luar kapel, begitu banyak orang sakit dengan kursi roda atau kereta khusus bertenda biru ditarik oleh para sukarelawan menuju kolam mandi di sebelah kanan Gua Massabielle. Saya tertegun kagum akan semangat dan harapan mereka. Kolam mandi dibuka jam 9.00 – 13.00 waktu setempat. Tetapi jam 7.30 antrian peziarah telah sangat panjang. Setiap periode jumlah orang yang mendapat kesempatan itu terbatas oleh waktu dan kelihatannya rombongan kami tidak akan mendapat kesempatan mandi pada periode pagi itu. Tour leader merubah acara untuk mulai mandi jam 11.00 siang untuk periode ke dua.
Acara utama lain pagi ini adalah jalan salib. Jalan salib di Lourdes berliku-liku sepanjang kurang lebih 1500 meter di puncak bukit Espelugues yang tinggi. Di tengah doa yang dibaca bergantian serta nyanyian jalan salib, para peziarah semuanya bersatu dan melebur dalam suasana haru yang tak dapat diekspresikan dengan kata-kata. Ada kursi roda yang ditinggalkan karena peziarah ingin menahan derita jalan salib. Napas terengah-engah serta kaki dan lutut yang sakit karena berlutut di setiap perhentian jalan salib berbatu-batu pastilah tidak sehebat penderitaan Yesus untuk menebus dosa-dosa kita manusia. Lantunan doa dan nyanyian dengan bahasa-bahasa berbeda dari setiap rombongan peziarah silih berganti. Patung-patung setinggi 2 meter di setiap perhentian mengingatkan saya akan Gua Maria Lourdes di Pohsarang, Kediri, Jawa Timur.
Saya telah beberapa kali ziarah dan menginap di Pohsarang dan juga sangat menyukai Gua Maria Lourdes Pohsarang yang begitu tenang. Doa-doa permohonan saya pada Bunda Maria di sana pun selalu terkabul. Namun lain Pohsarang, lain Lourdes. Suasana hati kita di Lourdes jadi berbeda walau pun di mana-mana bisa saja ada jalan salib dan pertobatan. Saya mendapat kesempatan membacakan doa jalan salib pada perhentian ke XI yaitu Yesus Disalibkan. Ini juga merupakan pengalaman pertama yang tak terlupakan dalam hidup saya dapat membacakan doa jalan salib di Lourdes.
Tetapi yang paling penting adalah cuplikan renungan yang harus selalu diingat yaitu ”Tuhan Yesus, berilah kami kekuatan untuk menyalibkan dosa-dosa kami agar kami kelak Kau bangkitkan dan boleh menikmati kebahagiaan bersama Engkau.”
Nyanyian: ”Dari salib Kau melihat. Tak terbilang yang menhujat. Berapakah yang taat?”
Cuplikan lirik lagu itu juga menyadarkan kita. Bukankah dalam tugas pekerjaan serta profesi kita di tengah masyarakat, organisasi atau lingkungan sosial lain, kita juga melihat dan merasakan tak terbilang yang menghujat. Kenapa kita sering sedih, kecil hati, marah dan tak kuat menghadapinya?
Saya pribadi juga sering begitu sensitive bila melihat beberapa anak didik yang diasuh dengan kasih , dididik disiplin, dibekali ilmu pengetahuan dan dibimbing ke arah yang benar, malah berbalik menghujat para pendidiknya. ”Oh, Tuhan, ampunilah mereka yang suka menghujat dan berilah kami kekuatan agar lebih sabar.”
Setelah perhentian ke XIV, Yesus Dimakamkan, di Lourdes ada jalan salib ke XV yaitu Yesus Bangkit Dari Antara Orang Mati. Batu besar bulat dengan ukiran cahaya/sinar di permukaannya tersandar di bukit karang melambangkan makam yang kosong setelah kebangkitan Kristus.
Di sebelah kanan bukit karang itu ada tulisan sederhana dalam bahasa Latin yang kira-kira berarti ”Dia telah bangkit seperti Dia katakan sebelumnya.” Alleluia!

(bersambung)

Article

Adalah seorang pembicara bernama Dr. Wan, menceritakan pengalamannya ketika ia dan keluarganya tinggal di Eropa. Satu kali mereka hendak mengadakan perjalanan ke Jerman. Untuk sampai di Jerman, mereka membutuhkan waktu tiga hari berkendaraan mobil tanpa henti (siang dan malam), Maka berangkatlah keluarga ini yang terdiri dari dirinya, istrimya dan seorang anak perempuan berusia 3 tahun yang bagi anak perempuan ini merupakan perjalanan jauhnya yang pertama. Malampun tiba, kendaraan mereka tetap laju namun anak perempuan ini merasa ketakutan dengan kegelapan di luar sana. Maka terjadilah dialog seperti ini antara anak perempuan ini dengan ayahnya.
"Mau kemana kita, papa?"
"Ke rumah paman, di Jerman."
"Papa pernah ke sana?"
"Belum."
"Papa tahu jalan ke sana?"
"Mungkin, kita dapat lihat peta."
[Diam sejenak] "Papa tahu cara membaca peta?"
"Ya, kita akan sampai dengan aman."
[Diam sejenak lagi] "Dimana kita makan kalau kita lapar nanti?"
"Kita bisa berhenti di restoran di pinggir jalan."
"Papa tahu ada restoran di pinggir jalan?"
"Ya, ada."
"Papa tahu ada dimana?"
"Tidak, tapi kita akan menemukannya. "
Dialog yang sama berlangsung beberapa kali dalam malam pertama, dan juga pada malam kedua. Tapi pada malam ketiga, anak perempuannya ini diam. Dr. Wan berpikir mungkin dia telah tertidur. Tapi ketika ia melihat ke ke belakang melalui cermin, ia melihat anak perempuannya itu belum tidur dan hanya melihat-lihat ke sekeliling dengan tenang. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa anak perempuannya ini tidak menanyakan lagi pertanyaan-pertanyaannya seperti sebelumnya.
"Sayang, kamu tahu kemana kita pergi?"
"Jerman, rumah paman."
"Kamu tahu bagaimana kita akan sampai ke sana?"
"Tidak"
"Terus kenapa kamu tidak bertanya lagi?"
"Karena papa sedang mengemudi."
Jawaban dari anak perempuan kecil berumur 3 tahun ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr. Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanannya bersama Tuhan. Ya, Bapa Kita sedang mengemudi. Kita mungkin tahu tujuan kita (seperti anak kecil yang tahu mau ke ‘Jerman' tanpa mengerti di mana atau apa itu sebenarnya). Kita tidak tahu jalan ke sana, kita tidak dapat membaca peta, kita tidak tahu apakah kita akan menemukan rumah makan sepanjang perjalanan. Tapi gadis kecil ini tahu hal terpenting, -- Papa sedang mengemudi -- dan dia aman.
Dia tahu papanya akan menyediakan semua yang dia butuhkan. Kenalkah engkau Bapa Anda, Gembala Agung, sedang mengemudi hari ini? Apa sikap dan respon anda sebagai seorang penumpang, anak-Nya yang dikasihi-Nya?
Kita mungkin telah menanyakan terlalu banyak pertanyaan sebelumnya, tapi kita dapat menjadi anak kecil itu, belajar menyadari fokus terpenting adalah 'Papa sedang mengemudi'. Tuhan adalah Bapa bagi Anda. Ijinkan Ia untuk mengemudikan hidup Anda. Maka kekuatiran bukan menjadi milik Anda lagi.
Mazmur 23:2-3
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Wednesday, October 1, 2008

CATATAN CINTA DARI LOURDES (1)


Di Lourdes, di gua sunyi terpencil … … … ……


by Hertin

Syair lagu itu terus menggema di hati saya sepanjang perjalanan daratan Eropa. Namun begitu bis rombongan mendekati Lourdes yang terletak di kaki rangkaian pegunungan Pyrenea, Perancis Selatan, hati saya tersentak melihat Lourdes tidak sesunyi dan seterpencil seperti yang saya bayangkan. Deretan hotel, guest house, apartemen, toko souvenir serta berbagai fasilitas lain siap menyambut ribuan peziarah yang datang setiap hari dari berbagai penjuru dunia.
Hujan rintik-rintik serta angin pegunungan yang dingin ke lembah tidak menyurutkan semangat dan langkah kaki saya untuk berjalan dari hotel menuju Grotto/Gua Massabielle, tempat di mana Bunda Maria menampakkan diri kepada Bernadette Soubirus untuk pertama kali pada tanggal 11 Pebruari 1858.
Selama 18 kali penampakan kepada Bernadette, gadis yang miskin dan sederhana, Bunda Maria menyampaikan beberapa pesan, antara lain: Dia Yang Dikandung Tanpa Noda meminta kita untuk berdoa dan bertobat.

Sebelum tiba di depan gua, saya merasa kagum melihat Gave de Pau yang jernih mengalir deras melalui depan Gua Massabielle. Aliran sungai Gave de Pau yang deras seolah-olah tak henti-hentinya menghanyutkan segala dosa kita yang bertobat berganti dengan aliran cinta yang tak pernah kering serta kerendahan hati yang didambakan.
Saya begitu terharu mengingat betapa besarnya cinta kasih Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria mengabulkan doa dan impian saya sekian lama untuk dapat melangkahkan kaki ke Lourdes. Saya berlutut dan mencium tanah basah di depan gua. “Terima kasih Bapa. Terima kasih bunda. Terima kasih Yesus.” Tak ada ukiran kata lebih indah yang dapat saya bisikan selain ‘Jadi Manusia Baru’ setelah pertobatan.

Untuk mendekati gua, rombongan berdiri antri, berjalan pelan sambil berdoa. Batu dinding gua kelihatannya telah licin mengkilat akibat sentuhan dan rabaan para peziarah. Di sebelah kiri bagian belakang gua, di bawah permukaan lantai kita dapat melihat sumber air yang pernah digali Bernadethte dengan tangannya atas petunjuk Bunda Maria. Sumber air itu ditutupi dengan pelat kaca di atasnya sehingga jelas kelihatan aliran airnya.
Lilin panjang dinyalakan di tempat lilin khusus yang telah disediakan di sebelah kanan gua. Sinar lilin melambangkan doa serta menerangi dan menghangatkan suasana malam yang semakin dingin di lembah. Setelah menyalakan lilin, saya berdoa sejenak di depan gua sebelum kembali ke hotel untuk makan malam.

Pukul 12 tengah malam saya besama dengan seorang teman dari Surabaya kembali ke gua untuk berdoa pribadi. Suasana hening menyentuh hati untuk ‘bercakap-cakap” dengan Bapa serta Bunda walaupun rintikan hujan mulai turun lagi membasahi kepala kami. Saya coba untuk bertahan beberapa menit sebelum pindah ke pinggir gua. Dingin udara malam menembus sweater dan syall yang dikenakan. Tak disadari kami adalah peziarah terakhir malam itu meninggalkan gua. Gerbang utama depan telah tutup. Melalui gerbang lain kami kembali ke hotel.

Jalan-jalan sepi dan lampu koridor hotel yang telah dipadamkan sempat membuat teman saya sedikit kuatir dan takut. Tapi cinta mengalahkan segalanya. Kita bisa istirahat dengan baik untuk persiapan misa serta jalan salib keesokan pagi.

(to be continued)



Monday, September 1, 2008

Intermezzo

Suatu hari, seorang guru berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.

Pertama...... "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini....????” Murid-muridnya ada yang menjawab....... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya". Sang guru menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya.

Lalu Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan kedua.......
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???" Murid-muridnya ada yang menjawab....... "negeri Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang". Lalu sang guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar, tetapi yang paling benar adalah "masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita, tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Sang guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga........
"Apa yang paling besar di dunia ini...???" Murid-muridnya ada yang menjawab...... "gunung", "bumi", dan "matahari". Semua jawaban itu dibenarkan oleh sang guru. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "hawa nafsu". Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian hawa nafsu duniawinya. Karena itulah kita harus hati-hati dan jangan diperbudak hawa nafsu, sehingga membawa kita kesengsaraan dunia dan akhirat.


Pertanyaan keempat..... "Apa yang paling berat di dunia ini...???" Di antara muridnya ada yang menjawab..... "baja", "besi", dan "gajah". "Semua jawaban hampir benar", kata sang guru,
”tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"”.


Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???" Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan". "Semua itu benar", kata sang guru, ”tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"”.

Lalu pertanyaan keenam ......... "Apakah yang paling tajam di dunia ini...???" Murid-muridnya menjawab dengan serentak..... "PEDANG...!!!" ”(Hampir) benar", kata sang guru, ”tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"”. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan siapa pun termasuk saudaranya sendiri.

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan kematian, senantiasa belajar dari masa lalu dan tidak memperturutkan hawa nafsu ??? Sudahkah kita mampu mengemban amanah sekecil apapun.dengan tidak meninggalkan ibadah serta senantiasa menjaga lidah kita???
Semoga.

HUMOR

Aji dan 20 ekor ayam

Suatu hari ada seorang lelaki kaya ingin mengadakan kenduri untuk anaknya.
Untuk itu dia pergi ke peternakan pak Romee untuk membeli ayam.

Lelaki kaya itu berkata : "Saya ingin memesan 20 ekor ayam untuk besok, ini alamat saya (sambil memberikan kartu namanya).

Jawab pak Romee: "Baik pak, saya akan suruh anak buah saya untuk mengantarkan ayam-ayam ini besok ke rumah Anda"

Setelah itu Pak Romee memanggil salah seorang anak buahnya bernama Aji dan berkatalah : "Ji, besok tolong antar 20 ekor ayam ke alamat ini (sambil memberikan kartu nama lelaki kaya tersebut)"

Antar ayam? Siap, boss !” jawab Aji dengan sigap.
Keesokan harinya Aji membawa 20 ekor ayam dengan sepeda motor. 10 ekor diletakkan di sisi kanan dan 10 ekor diletakkan di sisi kiri. Akan tetapi alangkah malangnya di tengah perjalanan dia terjatuh dari motornya dan ayam-ayam yang dia bawa langsung terlepas dan lari berhamburan.


Orang-orang berdatangan untuk mengetahui keadaan dan menolong Aji. Kemudian mereka ramai-ramai bertanya : "Bang, abang tak apa-apa kan? Kepalanya tidak sakit kan?”
Akan tetapi Aji menjawab sambil tertawa terbahak-bahak: "Ha... ha... ha... !"
Orang-orang tersebut itu bertanya lagi : "Bang, kenapa bang?"

Jawab Aji dengan tenang: "Dasar ayam-ayam bodoh, mereka mau lari ke mana? Alamatnya kan ada pada aku.”

Friday, August 1, 2008

Ceritakan Pada Dunia Untukku

Posted by John Powell, S.J

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih. Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan? "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.
"Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan. "
Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu. "Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.

Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur. Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.
Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy !
Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi."

"Kamu mau membicarakan itu?" "Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?" "Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang? "Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini. "Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.

"Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun.."

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu." "Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit : ayah saya.

Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya. "Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali. "Korannya turun perlahan 8 cm. " Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. "Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.

"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih." "Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?

"Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali. Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak," katanya. "Saya tahu, Tommy." "Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?" "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya. "

Tuesday, July 1, 2008

Just For Wishfull Thinking

Harga Sebuah Mujizat

Sally baru berumur 8 tahun, saat ia mendengar ayah dan ibunya berbicara tentang adiknya, Georgi, yang sedang sakit keras dan mereka telah melakukan segala cara sebatas kemampuan untuk mengobatinya.Hanya tinggal operasi yang sangat, sangat mahal yang dapat membantu adiknya dan itu sangat sukar karena keterbatasan keuangan keluarga Sally. Sally mendengar ayahnya berbisik dengan putus asa, "Hanya tinggal mujizat yang dapat menyelamatkan Georgi."

Sally kembali ke ruang tidurnya dan mengambil tabungan dari tempat ia menyembunyikannya. Ia mengeluarkan semua uang receh yang ada danmenghitungnya dengan seksama.Tiga kali ia menghitung karena jumlahnya harus benar-benar tepat.Tidak bisa ada kemungkinan berbuat salah.Ia membungkus uang receh itu dalam sapu tangannya, lalu ia menyelinap keluar dari rumah dan menuju ke apotik terdekat. Sally menunggu dengan sabar sampai apoteker dapat memberi perhatian padanya, tetapi apoteker sedang sibuk bicara dengan seorang yang perlente, dia itu tidak mau direpotkan oleh seorang anak umur 8 tahun
Sally menggesekkan kakinya dilantai serta berdehem beberapa kali untuk menarik perhatian, tidak ada hasilnya. Lalu ia mengambil sekeping uang receh dari bungkusan sapu tangan danmemukulkannya pada konter kaca. Tindakan itu berhasil. "Dan apa yang kau kehendaki?", apoteker itu bertanya dengan nada suara yang tinggi karena merasa terganggu. "Aku hendak berbicara dengan Bapak mengenai saudaraku," jawab Sally dengan nada suara yang juga tinggi. "Saudaraku sakit..... dan aku mau membeli suatu mujizat.". "Ayahku berkata hanya sebuah mujizat yang dapat menyelamatkan adikkusekarang ini, maka berapa harga sebuah mukjizat?" , "Maafkan aku," kata apoteker itu."Disini kami tidak menjual mujizat, gadis kecil. Aku tidak dapat membantumu." "Dengar, aku mempunyai uang untuk membayarnya. Hanya katakan saja padaku berapa harga mujizat itu?" Orang perlente itu membungkuk dan bertanya,"Apa mujizat yang dibutuhkan adikmu itu?" "Aku tidak tahu," jawab Sally. Sebutir airmata mulai mengalir dari matanya. "Aku hanya tahu adikku sakit keras dan ibu mengatakan dia perlu dioperasi. Tetapi keluargaku tidak mampu untuk membiayainya, tetapi aku mempunyai uangku sendiri." "Berapa uang yang kaumiliki?", tanya orang perlente itu. "Satu dollar dan sebelas sen," jawab Sally dengan bangga. "Dan itu adalah semuanya yang kumiliki di dunia ini." "Tentu, ini suatu kebetulan," jawab orang perlente sambil tersenyum. "Satu dolar dan sebelas sen, harga yang tepat untuk sebuah mujizat untuk menolong seorang adik."
Ia mengambil uang Sally dengan satu tangan, sambil tangan lain menggapaitangan Sally sambil berkata "Bawalah aku ke rumahmu. Aku ingin melihat adikmu dan berjumpa dengan kedua orang tuamu." Orang perlente itu adalah Dr. Carlton Armstrong, ahli bedah yang ternama dan mengkhususkan diri dalam penyakit Georgi. Operasi dilakukan tanpa biaya dan tidak lama kemudian Georgi pulangkembali ke rumah dan berangsur mulai sembuh.
Ayah dan ibu Sally berbicara dengan bahagia tentang rangkaian peristiwa-peristiwa sehingga itu semua terjadi. "Operasi itu,'" bisik ibu."Bagaikan mujizat. Aku sebenarnya ingin tahu berapa biaya operasi itu sesungguhnya" Sally tersenyum sendiri. Ia mengetahui berapa harga sebuah mujizat, satu dolar dan sebelas sen ditambah iman seorang gadis kecil.

Disadur dari "Faith is: A Fantastic Adventure In Trusting Him"

God Bless "Faith shines the strongest in chaos"

Inilah rumahmu !

Seorang Tukang Kayu lanjut usia sudah mau pensiun, kepada majikannya yang adalah seorang kontraktor, ia memberitahukan rencana-rencananya untuk meninggalkan bisnis membangun rumah untuk hidup santai dengan istrinya dan menikmati waktu bersama keluarga besarnya. Ia akan kehilangan upah mingguannya namun ia ingin pensiun. Mereka akan hidup mencukupkan diri.

Sang kontraktor sedih melihat pekerjanya yang baik mengundurkan diri dan bertanya apakah sang pekerja bersedia membangun satu rumah lagi saja sebagai bantuan pribadi. Sang Tukang Kayu mengiyakan, namun dengan berjalannya waktu dengan mudah dapat di lihat bahwa hatinya sudah tidak lagi tertuju pada pekerjaannya. Hasil kerjanya tidak rapi dan ia menggunakan bahan-bahan yang kurang baik kualitasnya. Benar-benar cara yang patut disesalkan untuk mengakhiri kariernya. Ketika sang tukang kayu menyelesaikan pekerjaannya, majikannya datang untuk memeriksa rumahnya. Lalu majikannya menyerahkan kunci depan rumah tersebut kepada sang tukang kayu seraya berkata, ” Inilah rumahmu.........hadiah dari saya untuk kamu.” Sang tukang kayu terkejut! Betapa memalukan! Seandainya saja ia mengetahui, bahwa ia sedang membangun rumahnya sendiri, tentu ia akan menggarapnya dengan cara yang sama sekali berbeda.

Demikian juga halnya dengan kita. Kita membangun kehidupan kita, sehari demi sehari, sering kali kita tidak mengerahkan kemampuan terbaik kita. Lalu, dengan terkejut, kita menyadari bahwa kita harus tinggal di rumah yang telah kita bangun. Seandainya saja kita bisa mengulangnya, kita akan melakukannya dengan cara yang sama sekali berbeda.

Akan tetapi, kita tidak mungkin kembali ke masa lalu. Kita adalah sang tukang kayu, dan setiap harinya kita memalu paku, memasang papan, atau membangun dinding kehidupan kita. Seseorang pernah mengatakan,”Kehidupan adalah proyek yang kita garap bagi diri kita sendiri.” Sikap dan pilihan-pilihan kita hari ini membantu membangun ”rumah” yang akan kita diami esok. Oleh karena itu membangunlah dengan bijaksana!

Sunday, June 1, 2008

Angina Pectoris

Hari itu, Dina (32) meminta izin pulang lebih cepat dari kantornya.Sejak pagi, Dina merasa pusing dan mual. "Aku masuk angin nih," keluhnya pada Fahmi (35), suaminya melalui telepon. Setiba di rumah, Dina memesan bubur ayam serta teh panas untuk mengurangi rasa tak enak badan yang dideritanya. Setelah kerokan, ia mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh badannya, sebelum beranjak tidur.
Lepas senja, Dina belum bangun juga, Fahmi yang baru saja pulang kantor. Menengok ke kamar, ditempat tidur Dina memang masih tertelungkup, tapi...sudah tak bernapas lagi! Wajahnya kebiruan, tampaknya, Dina menahan rasa sakit sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Selain panik, suaminya juga bingung, Sejauh diketahuinya, selama ini kondisi kesehatan Dina baik-baik saja.Bahkan istrinya itu tergolong wanita gesit yang memiliki segudang aktivitas setiap harinya, lantas, penyakit "tersembunyi" apakah yang merenggut nyawa Dina?
Menurut Dr. H. Djoko Maryono, DSPD, DSPJ, ahli internis dan kardiologi dari RS Pusat Pertamina, yang dialami Dina adalah Angina Pectoris.Orang-orang kita dulu biasa menyebutnya sebagai penyakit angin duduk.Gejalanya memang mirip masuk angin biasa, hanya sedikit lebih berat. Tak mengherankan. Penyakit ini cenderung disepelekan, angin yang satu ini ternyata bukanlah masuk angin biasa. "Yang biasa disebut angin duduk sesungguhnya adalah salah satu gejala penyakit jantung koroner, yang jika tidak segera ditangani penderitanya bisa langsung meninggal hanya dalam waktu 15-30 menit setelah serangan pertama" Dr. Joko mengingatkan.
Karena itu, kematian yang terjadi sama sekali bukan akibat kerokan atau Pengolesan minyak angin, seperti yang dilakukan Dina, melainkan karena "Tidak terdeteksinya kelainan pada jantung penderita". Padahal, seandainya sepulang kantor Dina langsung pergi ke Rumah Sakit atau ke dokter, dan bukannya malah kerokan dirumah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sang penyakit, mungkin nyawanya masih sempat terselamatkan.


Ciri-ciri : pusing, mual Dan kembung yang dialami penderita Angina


Pectorismemang nyaris serupa dengan penyakit masuk angin biasa. Hanya penderita juga merasakan dada sesak, nyeri dibagian ulu hati, keluar keringat sebesar jagung, serta badan terasa dingin.
Sayangnya, hal ini sering tidak disadari sebagai indikasi adanya gangguan pada jantung yang sifatnya kritis. Menurut Dr, joko, 20% dari keluhan angina pectoris yang diperiksakan ke dokter atau rumah sakit ternyata terdeteksi sebagai penyakit jantung koroner akut. Penyakit ini merupakan gangguan pada jantung akibat adanya kelainan pada pembuluh koroner, sehingga darah tidak mampu mengantarkan zat-zat yang dibutuhkan oleh jaringan dinding rongga Jantung. Karena itu, jika tidak terdeteksi sejak awal, penderitanya bisa mengalami sudden death.
Penyakit angina pectoris itu sendiri berupa perasaan tidak nyaman berkepanjangan, yang terjadi lebih dari 5 menit, akibat menurunnya tekanan darah yang memompa jantung. Akibatnya, jantung membutuhkan lebih banyak oksigen. Karena jantung tidak mampu memompa dengan sempurna, maka pembuluh darah mengadakan reaksi pemulihan berupa. Kontraksi guna mencukupi pengisian oksigen pada pompa jantung tadi, kontraksi itulah yang menimbulkan keringat dingin pada kulit.

PERBAIKI GAYA HIDUP
Sumber masalah sesungguhnya terletak pada penyempitan pembuluh darah jantung (vasokonstriksi) . Penyempitan ini diakibatkan oleh empat hal :

- Pertama, adanya timbunan-lemak (aterosklerosis) dalam pembuluh darah akibat konsumsi kolesterol tinggi.
- Kedua, sumbatan (trombosis) oleh sel beku darah (trombus);
- Ketiga, Vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh.darah akibat kejang yang terus menerus.
- Keempat, infeksi pada pembuluh darah.

"Gaya hidup masa kini yang kurang sehat dan tidak teratur adalah pemicunya" tegas Dr, Joko. Menurutnya, zaman sekarang orang cenderung melupakan pentingnya olahraga hidup dalam kondisi stress, sering tidur larut malam, dan sering mencoba bermacam pola diet yang tidak sehat. Kurang atau tak pernah olahraga akan menghambat kelancaran metabolisme tubuh. Akibatnya, akan terjadi pengendapan lemak yang perlahan-lahan dapat menyumbat lajunya aliran darah ke jantung.
Sementara itu, orang sekarang banyak yang mengaku tak punya cukup waktu olahraga, menjaga diri dari kemungkinan obesitas (kelebihan berat badan) juga berperan penting untuk kesehatan jantung, karena kelebihan lemak dapat meminimalkan gerak pompa jantung,
Jadi jaga ukuran pinggang anda, karena perutlah semua jenis lemak menumpuk. Untuk wanita, maksimal 80 cm, Dan untuk pria, maksimal 90 cm, karena jaga pola makan, hindari Junk Food, perbanyak asupan buah dan sayuran serta fiber.
Menjauhkan diri dari stress, juga bisa mencegah Kita dari penyakit jantung koroner, pasalnya dalam keadaan stress kinerja tubuh serta otak dipaksa untuk bekerja secara berlebihan, hasilnya kondisi tubuh selalu dalam keadaan letih dan porsi istirahat berkurang. "Kurangnya istirahat dapat mengakibatkan pengentalan darah, yang dapat meningkatkan hormon adrenalin, akibatnya bisa ditebak serangan jantung lebih gampang terjadi"
Orang yang emosi-an juga perlu diperhatikan (selalu marah-marah,setiap saat..), pasalnya, dalam marah-marah (otak panas, napas memburu, jantung pun berdebar keras, kadang sampai tubuh bergetar, darah bergerak cepat), jika kondisi darah bergerak cepat, sedangkan ada penyumbatan di pembuluh darah...wouw. ..bisa dibayangkan darah akan berkumpul disuatu tempat (pembuluh darah) dan karena tidak kuat menampung banyaknya darah yang datang pembuluh yang halus itupun pecah dan sudah bisa ditebak orang itupun akan koleps atau bisa merengang nyawa,
o ya..kondisi ini juga berlaku ketika berolahraga ekstra keras (seperti main bola, yang dituntut berlari2 bolak-balik terus menerus), itu juga memicu jantung berdebar dan darah bergerak cepat, dan jika dia mempunyai sumbatan2 dalam tubuhnya yang tidak diketahui, maka kejadian pembuluh darah pecahpun akan menimpanya (seperti Almarhum Benyamin S dan Basuki, mereka meninggal selagi bermain bola).
Wuiiih..ngeri ya...ya kalo udah berumur, harusnya udah ga cocok lagi untuk olahraga2 keras macam gitu, karena kita ga tau didalam tubuh kita (adakah penyumbatan atau tidak?) yang ringan2 aja lah seperti jalan kaki, jogging, senam, bersepeda santai, atau olahraga pernapasan, dll yang terakhir kebiasaan merokok serta mengkonsumsi minuman beralkohol juga berdampak negatif pada jantung, apalagi bila kebiasaan jelek ini dilakukan sejak usia remaja.
Ada beribu jalan untuk hidup sehat, Tuhan memberikan kita sesuatu yang luar biasa banyaknya, setiap ada penyakit pasti Tuhan memberikan obatnya, tapi bukan itu masalahnya, pola hidup sehat dan seimbang harus kita jalani, "Mencegah lebih baik daripada mengobati."

Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan, mudah-mudahan berguna:
1. Minum Air putih minimal 8 gelas sehari
2. Banyak makan buah-buahan dan sayuran (serat alami)
3. Hindari stress, dan selalu sabar
4. Perbanyak berpuasa
5. Tidur yang cukup dan olahraga ringan diusahakan rutin

Gampangkan, O ya satu lagi, Tuhan menciptakan dunia ini berpasangan ada Surga ada Neraka, ada pria ada wanita, ada putih ada hitam, ada manis ada pahit, ada baik ada jahat,
kesimpulannya jika kita banyak makan-makanan yang manis seperti coklat, teh manis, kopi susu, minunan kaleng, dll. Usahakan...sekali lagi..usahakan seminggu sekali atau beberapa hari sekali makan yang pahit2 seperti Rebusan air sambiloto, makan pare, minum jahe atau jus mengkudu, makan bawang putih, dll
Dan jika kita merasa sering makan-makanan yang berlemak atau berlebih seperti daging, jeroan, sering ngemil, makan 2 piring atau selalu nambah usahakan...sekali lagi..usahakan berpuasalah sesering mungkin untuk mengimbanginya, atau minum madu atau minum/makan jinten item (habatussauda. .)
Oke guys...mulai sekarang kita berusaha untuk hidup sehat dan seimbang, agar kita bisa hidup dan beribadah dengan tenang...

Thursday, May 1, 2008

Sejarah Rosario

by Dewi Hendra

Kata Rosario berasal dari bahasa Latin, rosarium,artinya “kebun bunga.” Di dalam Kidung Agung, Kitab Suci umat Yahudi, di tulis tentang seorang wanita cantik yang tinggal di sebuah kebun. Ia digambarkan sebagai “bunga mawar dari Saron,bunga bakung di lembah-lembah” (Kidung Agung 2:1}.

Bagi umat Kristen, bait ini dan seluruh Kidung Agung melambangkan cinta pasangan pengantin, antara Kristus dan umatNya. Maka, wanita itu diyakini sebagai Perawan Maria, sementara yang dimaksud dengan kebun keabadian adalah kebun mawar dari Bunda Maria. Hubungan antara mawar dan kebun mawar dengan Maria semakin menunjukkan maknanya dalam tradisi umat Katolik dalam abad ke-12, melalui tulisan Bernard dari Clairvaux dan ordonya Benediktin.

Tak ada tanggal pasti tentang asal mula Rosario. Menentukan titik awal perkiraan dari devosi ini sangat tergantung dari cara kita mendefinisikannya. Bila kita memahami Rosario sebagai rangkaian manik-manik yang digunakan untuk menghitung doa, maka awalnya jauh sebelum kelahiran Kristus, yaitu abad 9 SM, ketika bangsa Hindu mulai menggunakan manik-manik untuk berdoa. Besar kemungkinan umat Kristen pertama memunculkan metode seperti manik-manik untuk menghitung doa pada awal-awal Desert Fathers,mereka yang melarikan diri ke gurun pasir pada abad ketiga untuk berdoa tanpa henti agar dapat mencapai kesucian spiritual. Tahun-tahun berlalu, metode penghitungan pun menjadi semakin canggih. Pada abad kesebelas, para penganut agama dan awam yang saleh lazim membawa rangkaian manik atau tali yang disimpulkan yang disebut “paternoster”.

Doa yang diucapkan dalam Rosario berkembang selaras dengan penggunaan paternoster. Dengan semakin berkembangnya devosi kepada Yesus dan Maria pada abad kesebelas dan dua belas, maka doa Bapa Kami (Pater Noster) dan Salam Maria (Ave) dilambungkan oleh para awam sebagai pengganti Mazmur bahasa Latin. Sementara itu, kalimat-kalimat yang digunakan mengacu pada kehidupan Yesus dan Maria yang selanjutnya dikembangkan menjadi peristiwa, diselipkan di antara doa, sehingga tercipta suatu kerangka atau konteks yang sesuai.

Beberapa abad sesudahnya, setelah sebagian terbesar doa berkembang, dan orang menggunakan manik-manik untuk doa ini, peristiwa muncul dalam bentuk yang sekarang kita kenal. Adalah Dominic dari Prussia, rabbi dari ordo yang didirikan oleh Santo Bruno pada awal abad kelima belas, menulis sebanyak lima puluh meditasi- pernyataan iman Kristiani yang disebut clausulae- satu untuk masing-masing dari kelima puluh Ave. Akhirnya clausulae dan Ave dikelompokkan dalam puluhan, setiap puluhan dimulai dengan Bapa Kami.

Persetujuan Gereja tentang Rosario atau setidaknya pengakuan secara resmi dinyatakan pada tahun 1571, atas jasa para Dominikan dan pembentukan Persaudaraan Rosario. Persaudaraan Rosario ini menerbitkan buku tentang Rosario yang berhasil membuatnya dikenal. Paus Pius V dan Leo XIII adalah tokoh-tokoh penting dalam mempromosikan Rosario.

Jenny Gadis Yang Cantik

Jenny, gadis cantik kecil berusia 5 tahun dan bermata indah. Suatu hari ketika ia dan ibunya sedang pergi berbelanja, ia melihat sebuah kalung mutiara tiruan yang sangat indah, harganya pun cuma 2.5 dolar. Ia sangat ingin memiliki kalung tersebut dan mulai merengek kepada ibunya, akhirnya sang ibu setuju, katanya, ” Baiklah anakku, tetapi ingatlah meskipun kalung itu sangat mahal, ibu akan membelikannya untukmu. Nanti sesampainya dirumah, kita buat daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan sebagai gantinya. Biasanya Nenek selalu memberimu uang pada hari Ulang Tahunmu, itu juga harus kamu berikan kepada ibu.”

”Okay,” kata Jenny setuju.

Merekapun lalu membeli kalung tersebut. Setiap hari Jenny dengan rajin mengerjakan pekerjaan yang di tulis dalam daftar oleh ibunya. Uang yang diberikan oleh neneknya pada hari Ulang Tahunnya juga diberikannya kepada ibunya. Tidak berapa lama, perjanjiannya dengan ibunya pun selesai. Ia mulai memakai kalung barunya dengan rasa sangat bangga. Ia selalu memakai kalung itu kemanapun ia pergi. Ke sekolah taman kanak-kanaknya, ke supermarket, bermain bahkan pada saat ia tidur, kecuali pada saat mandi. "Nanti lehermu jadi hijau," kata ibunya.

Jenny juga memiliki seorang ayah yang sangat menyayanginya. Setiap menjelang tidur, sang ayah selalu membacakan sebuah buku cerita untuknya. Pada suatu hari seusai membacakan cerita, sang ayah bertanya kepada Jenny; "Jenny, apakah kamu sayang ayah?"

”Pasti, yah. Ayah tahu betapa aku menyayangi ayah."

"Kalau kau memang mencintai ayah, berikanlah kalung mutiaramu pada ayah."

"Yaa... ayah, jangan kalung ini. Ayah boleh ambil mainanku yang lain, Ayah boleh ambil Rosie, bonekaku yang terbagus, Ayah juga boleh ambil pakaian-pakaiannya yang terbaru tapi jangan ayah ambil kalungku..."

"Ya anakku, tidak apa-apa... tidurlah." Ayah Jenny lalu mencium keningnya dan pergi, sambil berkata: "Selamat malam anakku, semoga mimpi indah."

Seminggu kemudian setelah membacakan cerita ayahnya bertanya lagi: "Jenny apakah kamu sayang ayah?"

"Pasti, Yah. Ayah kan tahu aku sangat mencintaimu. "

"Kalau begitu, boleh ayah minta kalungmu?"

"Yaa, jangan kalungku..., Ayah ambil Ribbons, kuda-kudaanku. .. Ayah masih ingat kan ? Itu mainan favoritku. Rambutnya panjang dan lembut. Ayah bisa memainkan rambutnya, mengepangnya dan sebagainya. Ambillah Yah, Asal ayah jangan minta kalungku..."

"Sudahlah nak, lupakanlah," kata sang ayah.

Beberapa hari setelah itu Jenny mulai berpikir, kenapa ayahnya selalu meminta kalungnya? dan kenapa ayahnya selalu menanyai apakah ia sayang padanya atau tidak? Beberapa hari kemudian ketika ayah Jenny membacakan cerita, Jenny duduk dengan resah. Ketika ayahnya selesai membacakan cerita, dengan bibir bergetar ia mengulurkan tangannya yang mungil kepada ayahnya sambil berkata: "Ayah..., terimalah ini.." Ia lepaskan kalung kesayangannya dari genggamannya, dan dengan penuh kesedihan kalung tersebut berpindah ke tangan sang ayah... Dengan satu tangan menggenggam kalung mutiara palsu kesayangan anaknya, tangan yang lainnya mengambil sebuah kotak beludru biru kecil dari kantong bajunya. Di dalam kotak beludru itu terletak seuntai kalung mutiara yang asli, sangat indah dan sangat mahal... Ia telah menyimpannya begitu lama untuk anak yang dikasihinya. Ia menunggu dan menunggu agar anaknya mau melepaskan kalung mutiara plastiknya yang murah, sehingga ia dapat memberikan kepadanya kalung mutiara yang asli.

Begitu pula dengan dengan Tuhan kita. Seringkali Ia menunggu lama sekali agar kita mau menyerahkan segala milik kita yang palsu yang kita anggap sangat berharga dan sering kali ternyata tak bernilai & menukarnya dengan sesuatu yang sangat berharga. sesuai dengan rencana Tuhan, yang pastinya indah pada waktunya.

Tuesday, April 1, 2008

Story Telling

Alkisah ada seorang penebang pohon yang sangat kuat. Dia melamar pekerjaan pada seorang pedagang kayu, dan dia mendapatkannya. Gaji dan kondisi kerja yang diterimanya sangat baik. Karenanya sang penebang pohon memutuskan untuk bekerja sebaik mungkin.

Sang majikan memberikan sebuah kapak sambil menunjukkan area kerjanya. Hari pertama sang penebang pohon berhasil merobohkan 18 batang pohon. Sang majikan sangat terkesan dan berkata, "Bagus, bekerjalah seperti itu!"

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari sang penebang pohon bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 15 batang pohon. Hari ketiga dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hanya berhasil merobohkan 10 batang pohon. Hari-hari berikutnya pohon yang berhasil dirobohkannya makin sedikit. "Aku mungkin telah kehilangan kekuatanku", pikir penebang pohon itu.

Dia menemui majikannya dan meminta maaf, sambil mengatakan tidak mengerti apa yang terjadi. "Kapan saat terakhir kau mengasah kapak?" sang majikan bertanya."Mengasah? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak. Saya sangat sibuk mengapak pohon," katanya.

Kehidupan kita sama seperti itu. Seringkali kita sangat sibuk sehingga tidak lagi mempunyai waktu untuk mengasah kapak. "Di masa sekarang ini, banyak orang lebih sibuk dari sebelumnya, tetapi mereka lebih tidak berbahagia dari sebelumnya. Mengapa? Mungkinkah kita telah lupa bagaimana caranya untuk tetap tajam?

Tidaklah salah dengan aktivitas dan kerja keras. Tetapi tidaklah seharusnya kita sedemikian sibuknya sehingga mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sangat penting dalam hidup, seperti kehidupan pribadi, menyediakan waktu untuk membaca, dan lain sebagainya.

Kita semua membutuhkan waktu untuk tenang, untuk berpikir dan merenung, untuk belajar dan bertumbuh. Bila kita tidak mempunyai waktu untuk mengasah kapak, kita akan tumpul dan kehilangan efektifitas. Jadi mulailah dari sekarang, memikirkan cara bekerja lebih efektif dan menambahkan banyak nilai ke dalamnya.

Dan kita sebagai umat Katolik untuk mengasah kapak IMAN kita tentu saja satu-satunya cara adalah dengan banyak BERDOA dan Bersekutu dgn TUHAN! Tull gak:)

send by Yanti

Just Info

send by Yanti

  1. Buat anda penggemar barbeque atau penggemar sate , jangan lupa setelah makan ayam bakar, ikan bakar atau sate makanlah timun sesudahnya ! Kenapa ? Karena pada saat kita makan ikan bakar, ayam bakar atau sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker.

Makanan yang di bakar atau di panggang mempunyai zat karsinogen ( penyebab kanker) sedangkan timun mempunyai zat anti karsinogen, jadi jangan lupa ya setelah makan barbeque jangan lupa makan timun yang banyak....................................................!

2. Tahukah anda kalau sesudah makan udang kita tidak boleh makan vitamin C ? Karena makan vitamin C sesudah makan udang akan menyebabkan keracunan dari racun arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari udang dan vitamin C di dalam tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan jam.


Boleh percaya boleh nggak ?
Tapi lebih baik sedia payung sebelum hujan
dari pada kebasahan, tul nggak ?.

Tuesday, January 1, 2008

Tentang Beban Hidup

Pembaca terkasih, dalam setiap kehidupan kita, pastinya kita akan mengalami suatu permasalahan, entah ringan atau pun berat. Baru-baru ini saya membaca suatu artikel, yang ingin saya bagikan kepada pembaca terkasih agar bisa menjadi suatu bahan renungan bagi kita untuk menyikapi suatu permasalahan atau beban hidup.

Bukan beratnya suatu beban hidup yang membuat kita Stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut. Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda segelas air ini ? Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr." Ini bukanlah masalah
berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.

"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya
memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban hidup kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan
mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey. "Apa yang
harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi. Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!!

Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh direlung hati kita dan semoga artikel di atas bisa sejenak membuat anda meletakkan beban anda untuk beristirahat sejenak dan menikmati waktu yang menyenangkan bersama keluarga, teman dan warga kring Santa Maria Immaculata tentunya.


Start the day with smile and have a good day .....

Tapaki tahun 2008 dengan semangat dan spirit yang baru agar hidup bisa lebih baik lagi.